cerita petang

Pengamat

Jadi pengamat itu dilematis, antara menyenangkan dan merepotkan.

Menyenangkan, kalau anda memang tipe yang suka mengamati sifat, keadaan, dan psikologis lingkungan sekitar anda. Jadi pengamat, jadi tahu berbagai macam sifat dan karakter orang, seenggaknya anda tahu gimana cara menghadapi orang tersebut dan anda bisa tahu cocok-tidaknya anda dengan seseorang itu (dari awal) tentunya. Jadi pengamat tentunya menjadikan sang pengamat adalah sosok yang peduli dan pengertian (semakin sering mengamati, semakin sering mereka tahu apa yang terjadi) dengan seseorang atau lingkungannya. 

Merepotkan, ketika mau gak mau anda terjebak pada situasi “tahu segalanya (in ur own perspective)” tapi hanya bisa dipendam sendiri, karena ga semua orang mengerti cara pandang anda dan hasil yang didapat dari proses mengamati ini. (kecuali teman di sekeliling anda sama-sama pengamat juga)

Merepotkan juga, kalau anda terjebak dengan hasil dari proses mengamati ini. Salah-salah anda sudah men-judge orang ini dari awal tanpa anda mengenal lebih dalam. Salah-salah malah ngebentuk benteng pertahanan duluan dengan lingkungan sekitar karena sudah terlalu meng-apatiskan diri dari hasil proses pengamatan yang dilakukan. 

********************************************************************

baik-tidaknya suatu proses tergantung dari niat dan keyakinan yang ada di diri. Sama kayak mengamati, positif atau negatif proses tersebut untuk kita sebenernya tergantung dari pemikiran dan niat. Kalau emang niatnya udah baik dan didukung sama pemikiran yang ga sempit, insya Allah ‘benteng judgement ke lingkungan sekitar’ ga akan terbentuk kok. 

Jangan sampai apa yang sering dilakukan, malah membatasi diri bahkan menjerumuskan diri ke hal-hal yang mengganggu kesehatan pikiran dan mental anda :D 

nb : terinspirasi dari cerita-cerita sekeliling dan sedikit pengalaman pribadisaya suka mengamati juga loh! haha